Malam itu berubah menjadi malam yang menegangkan sekaligus sarat harapan bagi seluruh penduduk Surya. Udara yang dingin menusuk kulit, bercampur rasa cemas, seolah menelan seluruh desa ke dalam kesunyian yang berat. Mereka tahu, berhasil atau tidaknya langkah yang diambil oleh kepala suku mereka akan menjadi penentu hidup dan matinya keluarga mereka.

Di halaman luas yang diterangi cahaya bulan pucat, para penduduk berdiri dalam barisan panjang, dipimpin oleh para tetua yang memeriksa satu per satu posisi tubuh mereka yang sakit. Mereka memastikan setiap orang yang terbaring telah diatur sesuai arahan para leluhur sekte Pedang es, rapi dalam barisan demi barisan yang membentang tidak terlalu jauh dari laboratorium. 

Setelahnya, Tetua Raka berdiri paling depan, memimpin doa bersama. Suaranya bergetar, menyatu dengan bisikan harapan ribuan orang yang memohon keselamatan keluarga mereka dan keberhasilan kepala suku yang mereka percayai.

Di antara kerumunan, Leena menggenggam tangan Lynx. Matanya yang berkaca-kaca memantulkan cahaya bulan. “Sayang, berusahalah sebaik mungkin. Nasib mereka semua ada di tanganmu,” bisiknya penuh haru.

Lynx, dengan pakaian tempur yang hanya menutupi tubuh tanpa helm, menganggukkan kepala pelan. Matanya yang tajam memancarkan keteguhan. Malam ini ia harus mengendalikan kekuatan yang dapat mengguncang dunia, memadukan tiga energi yang mengalir di dalam dirinya, energi sakti yang mengerikan, energi spiritual yang lembut, dan energi iblis yang liar. Ia sadar, ia tidak boleh melepaskan segel energi sakti sepenuhnya. Dunia ini terlalu rapuh untuk menahan getaran energi sakti miliknya.

Han Tiansheng dan Xue Yuning berdiri di sisi kanan dan kiri Lynx. Keduanya memejamkan mata, tubuh menegang, membiarkan persepsi spiritual mereka menyebar ke setiap sudut halaman. Mereka memastikan posisi para penduduk yang akan dibekukan, memetakan setiap denyut kehidupan yang begitu rapuh di hadapan mereka. Keduanya sadar, ini adalah pertama kalinya mereka mencoba teknik seperti ini untuk ribuan orang sekaligus. Satu kesalahan saja bisa berubah menjadi bencana.

Ketika mata kedua leluhur itu terbuka kembali, mereka menatap sosok Lynx yang berdiri tegak di bawah sinar bulan, pancaran auranya terasa menembus tulang.

“Xue Yuning, persis seperti dugaanku. Pakaian yang dikenakan pemuda itu… itulah sumber kekuatannya. Dugaanku,  artefak tuan Xiao setara dengan pedang iblis, sama-sama meningkatkan kekuatan pemiliknya” bisik Han Tiansheng dengan nada tercampur kagum dan gentar.

“Benar, tapi bukan hanya artefak itu saja kunci kekuatan mereka, lihatlah istrinya. Kekuatan wanita itu jelas berasal dari dalam dirinya sendiri, bukan artefak. Dia benar-benar berada di ranah Immortal. Aku rasa, sosok yang mendukung mereka di balik layar pasti sangat kuat. Kita harus melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan mereka,” balas Xue Yuning dengan sorot mata serius.

Bayangan dari beberapa waktu lalu muncul di kpikiran mereka, saat pemuda itu tiba-tiba berkata “berubah”, dan dari pinggangnya, serat-serat metalik seperti aliran air menutupi tubuhnya dari kaki hingga kepala. Dalam sekejap ia tampak seperti dewa perang berlapis baja. Ketika helmnya dilepaskan, wajah muda itu memancarkan ketenangan yang menakutkan. Anehnya, para penduduk yang menyaksikan tidak menunjukkan keterkejutan berlebihan, seolah mereka sudah mengetahui identitas kepala suku mereka sejak lama.

Lynx kemudian terbang perlahan ke langit malam. Angin tipis berputar di sekelilingnya saat ia membentuk formasi pelindung agar hawa es yang akan dilepaskan tidak melukai para penduduk sehat. Ia sengaja menggunakan pakaian tempur agar kekuatannya tersamarkan dari mata para leluhur Sekte Pedang Es.

Suara Lynx terdengar pelan namun bergema ke seluruh penjuru desa. “Kalian semua… percayakan padaku. Aku akan menyelamatkan keluarga kita.”

“Selamatkan mereka, Kepala Suku!”“Selamatkan anak-anak kami!”“Selamatkan keluarga kami!”

Teriakan itu pecah di udara, bercampur dengan isak tangis yang ditahan.

Di bawahnya, puluhan penduduk pertama yang telah dicoba dibekukan dengan Eternal Stasis Casket tampak tertidur damai dalam kristal bening. Sebelum sampai pada tahap ini, mereka telah melakukan uji coba ke satu orang, lalu puluhan orang, hingga akhirnya yakin teknik gabungan ini berhasil. Kini giliran ratusan orang sekaligus yang harus dibekukan sebelum kondisi kritis mereka merenggut nyawa.

“Leluhur, kita mulai sekarang. Mohon bantuannya,” ucap Lynx, tubuhnya mulai mengeluarkan asap putih yang membawa hawa dingin menusuk tulang.

Han Tiansheng dan Xue Yuning segera bergerak. Telapak tangan mereka menyala biru, membentuk segel demi segel yang berputar di udara. Pola rumit itu turun perlahan ke tubuh para penduduk yang berbaring. Garis-garis tipis seperti urat cahaya merambat, menghubungkan enam titik vital di tubuh mereka: dahi, jantung, kedua bahu, dan telapak kaki. Pola itu membentuk bunga salju raksasa yang berputar perlahan di atas halaman. Para leluhur tidak langsung menandai ribuan penduduk namun membagi mereka dalam beberapa kelompok demi keamanan, dan agar energi mereka tidak habis seketika.

“Siap,” ucap Han Tiansheng dengan suara berat.

Dari langit, Lynx menutup mata. Ia menarik napas panjang, menyatukan ketiga energinya seperti yang diajarkan oleh leluhur Xue Yuning hingga murni menjadi Qi es. Saat ia membuka mata, irisnya memancarkan cahaya biru pucat. Uap tipis mengalir dari rambutnya yang bergerak pelan oleh angin dingin tak terlihat.

“Mulai,” ucapnya.

Tangan Lynx terangkat. Seketika hawa es murni menyelimuti seluruh halaman, merambat mengikuti jalur segel yang telah disiapkan. Seperti sungai yang menemukan muara, energi itu mengalir sempurna, memasuki tubuh para penduduk melalui titik vital mereka.

Suara retakan lembut terdengar, seperti kristal kaca yang terbelah. Dalam satu tarikan napas, tubuh-tubuh itu mulai dilapisi kristal bening, dari kaki, bahu, hingga kepala. Wajah yang tadinya meringis kesakitan perlahan menjadi tenang, seolah rasa sakitnya tertelan oleh kedamaian es. Detak jantung mereka melambat drastis. Para kultivator dengan pendengaran tajam masih bisa menangkap ritme jantung yang tersisa, dari setiap menit menjadi setiap jam.

Lala yang mengawasi layar monitor menahan napas. Angka-angka stabil. Ia menghela napas lega. “Leena… mereka berhasil…” bisiknya hampir tidak terdengar.

Leena yang sejak tadi menatap dengan cemas akhirnya menitikkan air mata syukur. Tapi ini baru permulaan. Masih banyak penduduk yang menunggu giliran.

Han Tiansheng menatap Lynx, matanya memancarkan rasa hormat bercampur ngeri. “Tuan Lynx… kita berhasil. Tidak ada satu pun yang rusak. Kendali anda… sempurna.”

Lynx hanya menghela napas panjang. Tubuhnya tegak, tapi sorot matanya sudah tertuju pada barisan berikutnya yang menunggu. “Kita lanjutkan. Jangan berhenti sebelum semua selamat.”

Gelombang kedua dimulai. Uap es semakin tebal, menyelimuti bagian dalam formasi seperti dunia salju yang muncul tiba-tiba. Satu per satu penduduk tertidur damai dalam kristal, wajah mereka untuk pertama kalinya terlihat tanpa penderitaan. Para penduduk yang menyaksikan menghapus air mata di wajah mereka dan mengikuti para tetua untuk berlutut, sujud syukur di atas tanah. Air mata mereka jatuh di udara dingin malam itu. Kekhawatiran menyelimuti hati mereka, namun mereka sangat mempercayai kepala suku yang selalu berjuang demi mereka, sehingga mereka mempercayakan keluarga mereka untuk di bekukan. Meski berat tetapi mereka sadar tidak ada pilihan lain untuk menunda kematian mereka. 

Hingga gelombang terakhir selesai, malam itu berubah menjadi lautan kristal. Ribuan penduduk tampak seperti tidur di dalam peti es alami, wajah mereka damai di bawah sinar bulan. Lynx berdiri di tengah formasi, uap napasnya jelas di udara dingin. Han Tiansheng dan Xue Yuning segera duduk bersila, menelan pil pemulih tingkat tinggi, berusaha mengembalikan energi spiritual yang hampir habis.

Lynx menatap ribuan kristal itu, suaranya lirih namun penuh janji. “Tunggulah… aku pasti akan menemukan cara menyembuhkan kalian. Jika perlu, aku akan mencari dunia mereka dan memaksa mereka menyembuhkan kalian semua.”

Ia lalu menghampiri Leena yang masih berdiri di tepi formasi. “Sayang, ini baru permulaan. Kita harus menemukan obatnya… dan membangunkan mereka semua.”

Leena mengangguk. Ia bisa merasakan kelelahan batin suaminya, bukan dari tubuh yang mengerahkan kekuatan mengerikan, tetapi dari hati yang menanggung beban seluruh desanya.

Di atas, bulan memantulkan sinarnya ke ribuan kristal, mengubah halaman desa menjadi dunia mimpi yang membeku. Namun di balik keindahan itu, Lynx tahu… perjuangan untuk menyelamatkan mereka baru saja dimulai.

